Stunting Riau Masih 20,1 Persen, Stigma Sosial Jadi Tantangan

Pemprov Riau menargetkan penurunan stunting dari 20,1 persen menjadi 17 persen pada 2026, namun tantangan sosial seperti stigma terhadap anak stunting masih menjadi hambatan di masyarakat.

Stunting Riau Masih 20,1 Persen, Stigma Sosial Jadi Tantangan
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA :

  • Angka stunting Riau masih 20,1 persen, ditarget turun jadi 17 persen pada 2026
  • Stigma sosial membuat anak stunting enggan datang ke posyandu
  • Pendekatan humanis dinilai penting dalam penanganan stunting.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Upaya menekan angka stunting di Provinsi Riau tidak hanya menghadapi tantangan teknis, tetapi juga persoalan sosial di masyarakat.

Stigma terhadap anak yang mengalami stunting disebut menjadi salah satu faktor yang menghambat efektivitas penanganan di lapangan.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Riau tercatat sebesar 20,1 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, menegaskan angka tersebut harus segera ditekan agar sesuai dengan target pembangunan daerah.

“Berdasarkan hasil SSGI 2024, angka stunting kita berada di 20,1 persen. Targetnya, pada 2026 harus turun menjadi 17 persen,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, target tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Riau 2025–2029.

Untuk mencapainya, diperlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari peningkatan layanan kesehatan, edukasi gizi, hingga perbaikan sanitasi lingkungan.

Di sisi lain, Guru Besar Gizi Masyarakat Poltekkes Kemenkes Riau, Aslis Wirda Hayati, menyoroti aspek sosial yang kerap luput dari perhatian dalam penanganan stunting.

Ia mengungkapkan bahwa anak-anak yang telah teridentifikasi stunting sering mengalami tekanan psikologis akibat label negatif di lingkungan sekitar.

Kondisi ini membuat mereka enggan mengikuti kegiatan posyandu.

“Anak-anak yang sudah dinyatakan stunting oleh kader sering kali enggan datang ke posyandu karena adanya stigma di masyarakat. Mereka merasa diberi label negatif, sehingga secara psikologis tidak mau hadir,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan yang lebih humanis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan, khususnya ahli gizi, agar keluarga tidak merasa terdiskriminasi.

“Aspek psikologis ini sangat penting. Anak dan keluarganya tidak boleh merasa direndahkan. Ini menjadi tugas tenaga gizi agar penanganan stunting tidak menimbulkan stigma,” kata dia.

Pemerintah dan para pemangku kepentingan berharap sinergi yang kuat antara sektor kesehatan, masyarakat, dan lingkungan dapat mempercepat penurunan stunting di Riau, tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan dalam proses penanganannya. (*)