RSUD Arifin Achmad Tambah 50 Mesin Cuci Darah dan Siapkan Bank Darah Mandiri
RSUD Arifin Achmad meningkatkan layanan kesehatan dengan menambah kapasitas hemodialisa hingga 50 kursi serta mempersiapkan bank darah mandiri guna mengatasi lonjakan kebutuhan pasien di Riau.
RINGKASAN BERITA:
- Kapasitas mesin cuci darah akan meningkat dari 20 menjadi 50 kursi.
- RSUD menyiapkan bank darah mandiri untuk mengatasi kekurangan pasokan.
- Kebutuhan darah mencapai 5.000 kantong per bulan, jauh di atas ketersediaan saat ini.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Lonjakan kebutuhan layanan kesehatan spesialistik di Riau mendorong RSUD Arifin Achmad melakukan ekspansi besar, mulai dari penambahan kapasitas cuci darah hingga rencana pembentukan bank darah mandiri.
Langkah ini diambil untuk mengatasi tingginya permintaan layanan medis yang terus meningkat.
Direktur RSUD Arifin Achmad, drg Yusi Prastiningsih, mengungkapkan jumlah pasien yang membutuhkan terapi hemodialisa menunjukkan tren kenaikan signifikan.
Saat ini rumah sakit memiliki 20 kursi mesin cuci darah dan akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 50 kursi.
“Tren pasien yang membutuhkan cuci darah terus meningkat. Saat ini kita punya 20 kursi dan akan kita tambah sehingga totalnya nanti 50 kursi,” kata Yusi.
Menurutnya, kesiapan ruang layanan telah dipastikan sehingga penambahan mesin dapat segera dilakukan.
Upaya ini menjadi bagian dari peningkatan kualitas layanan bagi pasien penyakit ginjal yang memerlukan terapi rutin dan berkelanjutan.
Dengan bertambahnya kapasitas tersebut, RSUD menargetkan waktu tunggu pasien dapat ditekan dan akses layanan menjadi lebih luas.
Selain itu, optimalisasi layanan juga diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan serta efektivitas penanganan pasien.
Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 50 tahun RSUD Arifin Achmad, serta respons terhadap meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah Riau.
Di sisi lain, rumah sakit juga tengah mempersiapkan pembentukan unit pengelolaan darah atau bank darah mandiri.
Selama ini, kebutuhan darah masih sangat bergantung pada Palang Merah Indonesia (PMI).
Yusi Prastiningsih menyebutkan kebutuhan darah di RSUD mencapai sekitar 5.000 kantong per bulan, sementara ketersediaan baru sekitar 1.500 kantong sehingga kekurangannya masih harus dipenuhi dari PMI.
“Kebutuhan darah di RSUD mencapai sekitar 5.000 kantong sebulan. Saat ini baru sekitar 1.500 kantong yang bisa dipenuhi, sehingga sisanya masih harus disuplai dari PMI,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menilai kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi rumah sakit untuk memiliki sistem pengelolaan darah sendiri, terutama guna mempercepat penanganan pada kasus darurat.
Sejumlah langkah telah dilakukan untuk mewujudkan rencana tersebut, mulai dari pelatihan tenaga medis hingga penyediaan sarana pendukung.
Selain itu, proses perizinan juga tengah berlangsung dengan melibatkan koordinasi bersama BPOM.
“Kami sudah kirim tenaga medis yang dipersiapkan untuk Unit Pengelolaan Darah, untuk ikut pelatihan. Proses perizinan juga sedang berjalan, termasuk koordinasi dengan BPOM,” jelasnya.
Ke depan, RSUD Arifin Achmad menargetkan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan darah secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan pada pihak eksternal.
Rumah sakit juga akan mendorong kegiatan donor darah secara rutin untuk menjaga ketersediaan stok.
“Harapannya, dengan adanya bank darah sendiri, pelayanan kepada pasien bisa lebih cepat, tepat, dan tidak terkendala ketersediaan darah,” tutup Yusi. (*)


