Perang Israel dan AS di Iran Untuk Apa?
Jadi apa sebenarnya alasan Amerika dan Israel menyerang Iran dan mengobarkan perang? Apakah semata soal minyak?
PERANG Amerika Serikat (AS), Israel melawan Iran yang dimulai 28 Februari 2026 kerap dikaitkan dengan perebutan minyak dan energi dunia. Republik Islam Iran menjadi satu-satunya di negara teluk yang belum "dikuasai" Amerika.
Berbekal retorika nuklir, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dan Presiden AS, Donald Trump mengobarkan perang. Militer AS bahkan menargetkan Sekolah Dasar (SD) Perempuan Iran di Minab. Dikabarkan 281 anak dan staf pengajar meninggal dunia.
Perang ini tidak masuk akal bagi banyak pihak. Pada 17 Maret 2026, Direktur Pusat Kontra-Terorisme Nasional (NCTC) AS, Joe Kent mengundurkan diri.
Setelah perang yang dilancarkan Israel dan AS meletus, perhatian banyak manusia di bumi tertuju pada satu titik di peta, Selat Hormuz. Selat Hormuz yang menjadi titik sentral dalam distribusi produk energi di bumi. Mengatur 20 persen alur lalu lintas minyak dunia.
Negara seperti di Asia Tenggara, Filipina dilaporkan telah melakukan kebijakan darurat energi. Iran pemilik Selat Hormuz secara resmi menyatakan setiap negara untuk menyampaikan keluhan ke AS.
Iran terlihat santai ketika minyak dunia bergejolak. Sementara. Trump semakin terpojok di dalam negeri. Ia diprotes rakyat AS dengan slogan “No Kings” pada 28 Maret 2026. Tuntutan demonstran berada dalam spektrum demokrasi, ekonomi imigrasi, dan perang di Iran.
Rakyat AS menegaskan Trump bukan raja dan tidak ada Raja. Demonstran menyatakan Trump sebagai pemimpin otoriter.
Laporan berbagai media menyebutkan sekitar 8 juta orang ikut serta di 3.300 lokasi dan 50 negara bagian. Trump menjadi Presiden AS yang diprotes karena antidemokrasi.
Pergeseran Masalah
Protes yang terjadi di AS berakibat isu bergeser dari minyak menuju lebih abstrak. Pergeseran ini ditandai dengan penyematan rakyat Amerika kepada Trump sebagai presiden otoriter.
Semenjak perang AS-Israel di Iran dimulai, saya dari awal mencurigai ini murni kerakusan Amerika yang ingin menguasai minyak dan jalur minyak dunia. Kecurigaan saya muncul dari inkonsistensi alasan perang.
Kecurigaan saya mulai terjawab atas aksi protes rakyat AS. Sesungguhnya hanya rakyat di satu negara yang mengetahui pemimpinnya seperti apa. Realitas ini yang sering dipakai AS sebagai cermin demokrasi.
Kita pasti ingat peristiwa unjuk rasa di Teheran sebelum perang terjadi. Tuntutannya pergantian rezim dan pergantian sistem. Saat ini di AS, terjadi protes kepada pemerintah yang dianggap antidemokrasi.
Titik pertemuan perang ini tersambung. Perang ini dilancarkan oleh Israel dan AS untuk merebut sistem. Minyak dan sumber energi mineral hanya alat tawar dalam proposal ke negara sekutu.
Saya ajak Anda memisahkan pemimpin politik dan militer sebagai target perang karena dua entitas tersebut target sah dalam perang. Koalisi AS-Israel dalam gelombang awal menyerang sekolah. Setelah itu, koalisi gabungan menyerang 120 situs sejarah dan museum di Iran.
Situs sejarah dan anak-anak sekolah merupakan warisan peradaban. Pertanyaan kritis saya adalah, apakah perang ini sepenuhnya tentang minyak? Sepertinya tidak.
Biaya perang AS di Iran dinilai banyak pakar sangat mahal, jika dirupiahkan sekitar Rp15 triliun per hari. Lebih mahal dibanding biaya perang per hari Rusia – Ukraina, Rp7 triliun-an.
Catatan tambahan, perang AS, Israel melawan Iran juga tidak didukung sekutu-sekutu utama di Eropa. Spanyol bahkan mengatakan tegas tidak mau terlibat. Inggris Raya, Perancis juga menolak terlibat.
Jika ini sepenuhnya tentang minyak, negara-negara berkiblat kapitalisme seperti AS biasanya ikut serta terlibat seperti catatan sejarah selama ini.
Fakta-fakta yang saya uraikan menuntun pikiran saya yang mencoba menyatakan ini tentang minyak dan energi–seperti yang digambarkan dalam berita-berita yang ada.
Republik Islam Iran negara dengan populasi 93 juta jiwa (worldometer) menganut sistem Teokrasi Islam. Banyak negara di dunia yang menganut ini, tapi tidak ada yang seperti Iran.
Dalam pandangan saya, Republik Islam Iran menjadi satu-satunya halangan bagi AS untuk menguasai Islam. Bagi negara seperti AS, agama berpotensi dijadikan alat kontrol untuk memperluas pengaruh globalnya.
Sementara, saat ini saya menilai tidak ada negara Islam selain Iran yang mampu menentang hegemoni AS dalam tatanan global. Iran menjadi satu-satunya negara teokrasi Islam yang tidak tunduk pada negeri Paman Sam.
Bagi kepentingan global AS, Iran adalah masalah yang harus dibereskan agar dapat mengendalikan Islam di seluruh dunia. Mungkin ini yang tidak diinginkan sekutu-sekutu AS di Eropa.
Eropa tidak menginginkan Islam dipegang dan dikendalikan AS, karena mereka belajar dari perang di Irak dan Afganistan.
Tapi itu hanya kemungkinan yang kecil. Kemungkinan yang besar yaitu, memanipulasi manusia melalui agama.
Agama bisa menjadi bingkai ilusi yang membuat orang seperti mabuk dan ketergantungan obat. AS dan Israel sangat mumpuni urusan begini.
Lantas apa tujuan AS? Dari petunjuk-petunjuk yang telah saya kemukakan, jawaban yang dapat saya kemukakan, AS dan Israel ingin kontrol penuh terhadap manusia melalui agama. Jika Iran kalah masalah AS lebih mudah tinggal membidik takhta suci Vatikan.
Takhta suci Vatikan menolak keras agama dipakai menjadi alat kontrol AS. Saya menilai, Israel dan AS tidak memedulikan Kristen, karena Kristen tidak segarang Islam dan Katolik.
(Penghancuran) sekolah dan situs sejarah di Iran, petunjuk utama apa yang ingin dicapai AS dan Israel dalam perang. (*)
* Selain Kolumnis, Martin Laurel Siahaan saat ini adalah Ketua Umum Barisan Rakyat 1 Juni/Barak 106


