Kesenjangan Deteksi Kasus TBC di Indonesia Masih Tinggi, jumlah Kasus 1 Juta Tiap Tahun
Meski jumlah kasus TBC di Indonesia mencapai lebih dari 1 juta per tahun, masih banyak yang belum terdeteksi. Pakar UGM menilai kesenjangan ini menjadi hambatan utama dalam pengendalian penyakit.
RINGKASAN BERITA:
- Indonesia menempati posisi kedua dunia dengan estimasi lebih dari 1 juta kasus TBC per tahun.
- Kesenjangan besar antara kasus terdeteksi dan tidak terdeteksi jadi tantangan utama.
- Strategi Active Case Finding dinilai efektif untuk menemukan kasus tersembunyi di masyarakat.
RIAUCERDAS.COM - Kesenjangan besar antara jumlah kasus tuberkulosis (TBC) yang diperkirakan dan yang berhasil ditemukan menjadi sorotan utama dalam upaya pengendalian penyakit di Indonesia.
Kondisi ini dinilai sebagai tantangan serius yang dapat menghambat target eliminasi TBC pada 2030.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, kasus TBC di Indonesia diperkirakan mencapai 1.060.000 per tahun.
Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dengan jumlah kasus terbanyak setelah India.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rina Triasih, mengungkapkan bahwa masih banyak kasus yang belum terdeteksi oleh sistem layanan kesehatan.
Ia menyebutkan bahwa dari estimasi sekitar satu juta kasus, baru sebagian yang berhasil diidentifikasi secara medis.
“Prediksinya mencapai 1 juta, tetapi yang sudah fiks diprediksi oleh dokter-dokter hanya mencapai beberapa ratus ribu, tetapi masih banyak sekali pasien di luar sana yang TBC dan belum ditemukan atau diobati oleh pihak dokter,” kata dia dikutip dari laman UGM, Senin (6/4/2026).
Menurut Rina, kondisi ini mencerminkan adanya hambatan nyata di lapangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak gejala awal, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga minimnya pemahaman tentang tanda-tanda TBC.
Ia juga menyoroti potensi penularan dari pasien yang belum terdiagnosis.
Kelompok ini berisiko menjadi sumber infeksi baru, terutama setelah pandemi COVID-19, ketika jumlah kasus yang terdeteksi sempat menurun sebelum kembali meningkat.
“Waktu COVID, jumlah kasus TBC yang ditemukan itu tidak banyak, tetapi pasca COVID itu justru meningkat,” terangnya.
Sebagai solusi, Rina terlibat dalam pengembangan metode Active Case Finding (ACF) melalui program Zero TB Yogyakarta sejak 2020.
Pendekatan ini dilakukan dengan mendatangi masyarakat secara langsung menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk menemukan kasus, baik yang bergejala maupun tidak.
“Kita menjemput pasiennya dan bukan menunggu pasiennya ke rumah sakit atau Puskesmas,” jelas Rina.
Selain persoalan deteksi, muncul pula tantangan dari kasus TBC resisten obat yang disebabkan oleh pengobatan tidak tuntas.
Kondisi ini membuat proses penyembuhan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan waktu lebih lama.
“Biasanya memang dua bulan itu sudah terlihat dan sudah merasa baikan. Nah, mungkin karena mereka sudah merasa sehat, mereka tidak melanjutkan pengobatan dan itu merupakan risiko untuk menjadi TBC resisten obat,” kata dia.
Rina menegaskan bahwa penanganan TBC tidak cukup hanya mengandalkan intervensi medis.
Faktor sosial seperti stigma, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, hingga lingkungan tempat tinggal turut memengaruhi penyebaran penyakit.
Ia juga menyoroti tantangan geografis Indonesia yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan, khususnya di luar Pulau Jawa.
Untuk itu, ia mendorong pendekatan komprehensif melalui strategi Search, Treat, and Prevent.
Strategi ini mencakup pencarian kasus secara aktif, pemberian pengobatan hingga tuntas, serta upaya pencegahan melalui edukasi masyarakat.
“Search mencari pasiennya dan mendeteksi mereka dengan cepat. Treat memberikan pengobatan yang adekuat sampai sembuh total. Prevent melakukan tindakan pencegahan dan edukasi,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan implementasi strategi yang masif, Rina optimistis Indonesia dapat mencapai target eliminasi TBC pada 2030. (*)


