Waspada Gangguan Pencernaan Saat Lebaran, Ahli Ingatkan Bahaya Makan Berlebihan
Guru Besar FKUI Prof. Ari Fahrial Syam mengingatkan masyarakat agar tidak langsung makan berlebihan saat Lebaran karena sistem pencernaan butuh adaptasi setelah Ramadan.
RINGKASAN BERITA:
- Sistem pencernaan butuh adaptasi, hindari makan berlebihan usai Ramadan.
- Makanan bersantan, berlemak, dan tinggi gula picu gangguan pencernaan.
- Penderita penyakit kronis diminta disiplin pola makan dan konsumsi obat.
RIAUCERDAS.COM - Lonjakan konsumsi makanan saat Hari Raya Idulfitri berpotensi memicu gangguan pencernaan jika tidak diantisipasi dengan baik. Masyarakat diimbau untuk mengatur pola makan secara bertahap usai menjalani puasa selama sebulan penuh.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH., MMB, menegaskan bahwa tubuh, khususnya sistem pencernaan, tidak bisa langsung menerima asupan dalam jumlah besar setelah Ramadan.
“Perlu ada penyesuaian secara bertahap, baik dari sisi jumlah makanan, waktu makan, maupun pola istirahat. Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan,” ujarnya dikutip dari laman UI, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, tradisi menyajikan makanan bersantan, berlemak, dan tinggi gula saat Lebaran kerap menjadi pemicu keluhan seperti perut kembung, rasa begah, hingga nyeri di ulu hati.
Jika muncul gejala tersebut, masyarakat diminta segera menghentikan konsumsi makanan.
Pembatasan juga perlu dilakukan terhadap makanan berlemak, santan, pedas, dan asam, termasuk minuman bersoda serta kopi berlebihan, terutama bagi mereka yang selama Ramadan telah mengurangi konsumsi jenis tersebut.
Kelompok masyarakat dengan riwayat penyakit seperti gangguan lambung, hipertensi, diabetes, dan asam urat diminta lebih berhati-hati.
Pola makan yang tidak terkendali selama Lebaran berisiko memicu kondisi akut.
“Selama Ramadan, banyak orang berhasil mengendalikan pola makan dan bahkan menurunkan berat badan. Namun, jika tidak dijaga, kondisi tersebut bisa kembali seperti semula hanya dalam waktu singkat,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, konsumsi makanan tinggi kalori perlu diimbangi dengan buah dan sayuran yang kaya serat untuk membantu mengontrol penyerapan gula dan lemak.
Dalam kondisi ringan seperti mual atau nyeri ulu hati, disarankan beristirahat, menghindari makanan pemicu, serta mengonsumsi obat penetral asam lambung.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menyiapkan obat-obatan dasar selama libur Lebaran, mengingat keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa wilayah.
Prof. Ari turut mengingatkan pentingnya disiplin dalam mengonsumsi obat rutin, terutama bagi penderita penyakit kronis.
Aktivitas silaturahmi yang padat sering kali membuat pasien lalai, yang dapat berdampak pada memburuknya kondisi kesehatan.
“Lebaran adalah momen bahagia, namun kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan: boleh menikmati hidangan, tetapi perhatikan takarannya agar tetap terkontrol,” pungkasnya.
Dengan menjaga pola makan, memperhatikan asupan nutrisi, dan tetap aktif bergerak, masyarakat diharapkan dapat merayakan Idulfitri dengan kondisi tubuh yang tetap prima. (*)


