UTBK dan UM-PTKIN Dibuka, Menag Tekankan Pentingnya Integritas dan Akhlak Mahasiswa
Di tengah pelaksanaan UTBK dan pembukaan UM-PTKIN, Menteri Agama mengingatkan peserta dan mahasiswa bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan kecerdasan, tetapi juga integritas dan akhlak.
RINGKASAN BERITA:
- Menag menegaskan pentingnya integritas dan akhlak di tengah seleksi masuk perguruan tinggi.
- Mahasiswa diminta tidak hanya mengejar gelar, tetapi membangun karakter dan kepemimpinan intelektual.
- Tradisi membaca dan pemahaman Al-Qur’an serta Hadis menjadi fondasi utama pendidikan keagamaan.
RIAUCERDAS.COM, BENGKULU - Pelaksanaan seleksi masuk perguruan tinggi melalui UTBK yang berlangsung bersamaan dengan pembukaan pendaftaran UM-PTKIN dimanfaatkan Menteri Agama untuk menekankan pentingnya pembentukan karakter mahasiswa.
Ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga integritas dan moralitas.
Pesan tersebut disampaikan saat kunjungan ke UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Jumat (24/4/2026).
Menag menegaskan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, melainkan juga oleh kualitas akhlak.
“Peradaban tidak dibangun hanya oleh orang pintar, tetapi oleh mereka yang mampu memadukan ilmu dan moralitas,” tutur Menag.
Ia menjelaskan, kunci menjadi intelektual masa depan terletak pada kebiasaan membaca, pendalaman ilmu, serta kemampuan menjaga etika.
Kampus, menurutnya, bukan sekadar tempat memperoleh gelar, melainkan ruang strategis untuk membentuk karakter dan kepemimpinan intelektual.
Menag juga mengingatkan bahwa status mahasiswa harus dimaknai sebagai tanggung jawab besar.
Selain meningkatkan kapasitas berpikir, mahasiswa dituntut membangun kepercayaan diri dan kesadaran akan peran intelektualnya di tengah masyarakat.
“Kampus ini punya sejarah dan potensi besar. Dari sini harus lahir cendekiawan muslim yang punya pengaruh,” ujarnya.
Dalam konteks penguasaan masa depan, ia menekankan pentingnya tradisi keilmuan yang kuat dengan kembali pada semangat iqra’.
Membaca tidak hanya dimaknai secara tekstual, tetapi juga memahami realitas sosial.
“Kalau ingin menguasai masa depan, kuncinya membaca, bukan hanya teks, tapi juga realitas. Pelajari, pahami, lalu amalkan,” tuturnya.
Menag menambahkan bahwa sumber utama ilmu di perguruan tinggi keagamaan tetap berpijak pada Al-Qur’an dan Hadis.
Namun, pemahaman tersebut harus diiringi kesiapan spiritual.
“Ilmu itu tidak hanya soal kecerdasan, tapi juga kebersihan hati. Jaga hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama,” sebutnya.
Kepada dosen, ia berpesan agar tidak hanya menjalankan fungsi pengajaran, tetapi juga membangun kepercayaan diri mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan.
“Dosen harus bisa membangkitkan semangat. Yakinkan mahasiswa bahwa mereka mampu menjadi tokoh intelektual dan pemimpin masa depan,” ujarnya.
Menag berharap UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu terus berkembang menjadi pusat pengembangan Islam yang moderat, unggul, dan berdaya saing global.
“Bengkulu punya posisi strategis. Kampus ini harus menjadi pusat lahirnya pemikiran Islam yang kuat dan relevan dengan zaman,” tutupnya. (*)


