Tak Biasa! Toilet Dipindah ke Depan Kelas, Sekolah di Sumsel Ubah Revitalisasi Jadi Pendidikan Karakter

Revitalisasi satuan pendidikan di Sumatra Selatan menghadirkan pendekatan baru. SMAN 1 Indralaya memanfaatkan program ini bukan hanya untuk memperbaiki bangunan, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab, kepedulian, dan budaya hidup sehat melalui penataan fasilitas yang tidak lazim.

Tak Biasa! Toilet Dipindah ke Depan Kelas, Sekolah di Sumsel Ubah Revitalisasi Jadi Pendidikan Karakter
Salah satu gedung hasil revitalisasi satuan pendidikan yang dilakukan Kemendikdasmen di SMAN 1 Indralaya. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • SMAN 1 Indralaya menempatkan toilet dan UKS di area depan sebagai strategi pembentukan karakter
  • Program revitalisasi tak hanya menyentuh fisik bangunan, tapi juga budaya hidup sehat dan tanggung jawab siswa
  • Mendikdasmen menegaskan revitalisasi sekolah difokuskan pada kenyamanan psikologis peserta didik

RIAUCERDAS.COM, INDRALAYA - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak lagi dimaknai sebatas membangun ulang gedung sekolah.

Di SMAN 1 Indralaya, Sumatra Selatan, revitalisasi justru dimanfaatkan sebagai sarana membentuk karakter dan budaya hidup sehat siswa.

Alih-alih meletakkan fasilitas sanitasi di area belakang, manajemen sekolah menempatkan toilet dan ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) di bagian depan, dekat ruang kelas dan lapangan.

Penataan ini sengaja dilakukan agar fasilitas sekolah menjadi ruang bersama yang diawasi dan dijaga langsung oleh warga sekolah.

Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, mengatakan kebijakan tersebut dirancang untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab pada diri siswa.

“Kami ingin siswa terbiasa menjaga fasilitas yang terlihat, digunakan bersama, dan menjadi bagian dari aktivitas harian mereka. Dari situ tumbuh kepedulian, disiplin, dan kesadaran hidup bersih,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Selain penataan toilet dan UKS, revitalisasi juga dimanfaatkan untuk membangun laboratorium IPA sesuai standar serta merehabilitasi musala.

Fasilitas-fasilitas itu diharapkan memperkuat ekosistem sekolah yang sehat, aman, dan mendukung pembelajaran.

Dampak perubahan tersebut dirasakan langsung oleh siswa.

Rizqa Kamila, siswi kelas XII, mengaku suasana sekolah yang baru membuatnya lebih percaya diri dan termotivasi mengikuti pelajaran, terutama saat praktikum di laboratorium.

“Aku jadi makin semangat belajar. Laboratoriumnya baru, alatnya lengkap, jadi pelajaran Fisika terasa lebih hidup,” katanya.

Hal serupa diungkapkan Rifki Abian, siswa kelas X, yang menilai wajah sekolah kini lebih modern, sementara ruang UKS terlihat bersih dan siap digunakan.

Praktik yang diterapkan SMAN 1 Indralaya ini turut menarik perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Saat meresmikan 47 satuan pendidikan di Sumatra Selatan yang dipusatkan di sekolah tersebut, ia menekankan bahwa revitalisasi harus menyentuh aspek kenyamanan psikologis peserta didik.

“Sekolah harus menjadi rumah kedua. Lingkungannya aman, nyaman, dan membuat anak-anak merasa terlindungi untuk tumbuh dan belajar,” tegasnya.

Ia menambahkan, program revitalisasi nasional tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada penciptaan budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Mendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Pendekatan revitalisasi juga dirasakan di sekolah lain. Di SMPN 1 Lubuk Liat, perbaikan ruang kelas menghilangkan kekhawatiran lama terkait kondisi atap dan lantai yang rusak.

Kepala sekolah Marion menyebut kegiatan belajar kini berlangsung lebih aman dan nyaman.

Sementara itu, SDN 6 Pemulutan Barat memanfaatkan program tersebut untuk membangun ruang UKS, ruang administrasi, serta toilet, termasuk fasilitas ramah disabilitas.

Kepala sekolah Desi Huswinda berharap, pembaruan data kondisi sekolah terus dilakukan agar bantuan pemerintah tepat sasaran dan menjawab kebutuhan riil di lapangan.

Melalui revitalisasi yang menyentuh fisik sekaligus budaya sekolah, pemerintah mendorong lahirnya lingkungan belajar yang bukan hanya layak, tetapi juga membentuk karakter generasi muda. (*)