Produktivitas Kakao Nasional Terus Menurun, Pakar UGM Tekankan Peremajaan Kebun dan Bibit Unggul
Produktivitas kakao nasional Indonesia masih tertinggal dibanding negara produsen utama dunia. Pakar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menilai persoalan utama terletak pada peremajaan kebun yang belum optimal, penggunaan bibit asalan, serta pengendalian hama dan penyakit yang belum berkelanjutan.
RINGKASAN BERITA :
- Produktivitas kakao Indonesia masih rendah, hanya 500–700 kg per hektare per tahun, jauh tertinggal dari negara produsen utama dunia.
- Hama PBK, penyakit VSD, dan penggunaan bibit asalan menjadi penyebab utama penurunan hasil kakao nasional.
- UGM mendorong peremajaan kebun dan bibit unggul, didukung riset kolaboratif untuk meningkatkan mutu dan daya saing kakao Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Produktivitas kakao nasional Indonesia terus menunjukkan tren penurunan dalam satu dekade terakhir.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat produktivitas kakao Indonesia rata-rata hanya berkisar 500–700 kilogram per hektare per tahun, jauh di bawah negara produsen utama seperti Ghana yang mampu mencapai 800–1.000 kilogram per hektare.
Kondisi tersebut disoroti peneliti dan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Nur Akbar Arofatullah, S.P., M.Biotech., Ph.D.
Ia menilai persoalan kakao nasional jauh lebih kompleks daripada sekadar luas lahan.
“Produktivitas kakao nasional rata-rata hanya sekitar 700 kilogram per hektare per tahun. Kendala terbesar di lapangan adalah produktivitas yang rendah, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan hama dan penyakit,” ujarnya dilansir ugm.ac.id, Jumat (2/1/2026).
Menurut Akbar, hama penggerek buah kakao (PBK) dan penyakit vascular streak dieback (VSD) menjadi faktor utama yang menekan hasil produksi.
PBK merusak buah secara langsung, sementara VSD menyebabkan kematian bertahap pada batang dan daun tanaman kakao.
“Dua masalah ini sangat signifikan menekan produksi,” jelasnya.
Berbagai pendekatan pengendalian saat ini tengah diuji, termasuk pemanfaatan fungisida hayati dan insektisida hayati sebagai upaya pengendalian yang lebih berkelanjutan.
Namun, Akbar menegaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit tidak akan optimal tanpa dukungan penggunaan bibit kakao unggul.
Ia menyebut, masih luasnya penggunaan bibit asalan yang tidak terstandar menjadi salah satu akar persoalan rendahnya produktivitas kakao nasional.
“Bibit unggul itu pondasi. Kalau sejak awal bahan tanamnya lemah, maka sebaik apa pun pemupukan dan pengendalian hama, hasilnya tetap tidak maksimal,” tegasnya.
Bibit unggul, lanjut Akbar, tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menentukan keseragaman tanaman, umur mulai berbuah, stabilitas hasil jangka panjang, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit.
Varietas unggul juga dapat menekan ketergantungan petani pada pestisida kimia sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
Persoalan bibit juga berdampak langsung pada mutu pascapanen dan kualitas biji kakao.
Varietas berbeda menghasilkan karakter biji yang berbeda, termasuk ukuran biji, kandungan lemak, hingga potensi cita rasa setelah fermentasi.
Hal ini turut memengaruhi daya saing kakao Indonesia di pasar global.
Akbar menambahkan, tantangan lainnya adalah masih dominannya pemasaran biji kakao Indonesia dalam kondisi belum difermentasi.
Praktik ini menyebabkan kualitas biji sangat bervariasi dari sisi keasaman, cita rasa, dan profil aroma, sehingga menyulitkan industri menjaga konsistensi mutu dalam skala besar.
Di UGM sendiri, saat ini tengah dilakukan riset kolaboratif dengan Fuji Oil Jepang yang berfokus pada pengembangan kakao Indonesia sebagai bahan baku cocoa powder sesuai kebutuhan industri.
Riset ini melibatkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) serta kelompok tani di Cilacap melalui pengembangan pilot plantation yang direncanakan mulai beroperasi pada 2026.
“Karakter kakao Indonesia umumnya memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Karena itu, kami meneliti varietas dan fermentasi yang mampu menghasilkan biji dengan keasaman lebih rendah,” jelas Akbar.
Ke depan, ia berharap perbaikan kakao nasional dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peremajaan kebun, penggunaan bibit unggul, pengendalian hama berkelanjutan, hingga peningkatan kualitas pascapanen.
“Stabilitas harga dan kualitas adalah kunci daya saing global. Tapi pondasinya tetap ada di kebun, bibit yang baik, budidaya yang benar, dan kualitas yang dijaga secara konsisten,” pungkasnya.