Dosen ITB Bahas Lanskap Media Indonesia di Jerman, Soroti Kepemilikan dan Dinamika Media Digital

Dosen SBM ITB Dr. N. Nurlaela Arief menjadi International Guest Lecturer di Jerman dan menarik perhatian mahasiswa internasional lewat pembahasan mendalam tentang lanskap media Indonesia, mulai dari struktur kepemilikan, afiliasi politik, hingga ekspansi media digital berbasis modal ventura.

Dosen ITB Bahas Lanskap Media Indonesia di Jerman, Soroti Kepemilikan dan Dinamika Media Digital
Dr Lala saat menjadi International Guest Lecturer di RheinMain University of Applied Sciences, Wiesbaden, Jerman. (Sumber: itb.ac.id)

RINGKASAN BERITA:

  • Lanskap media Indonesia jadi sorotan internasional, terutama soal kepemilikan, afiliasi politik, dan media digital.

  • Diskusi komparatif lintas negara memperkaya pemahaman mahasiswa tentang dinamika industri media global.

  • Peran dosen ITB di luar negeri memperkuat reputasi akademik Indonesia di tingkat internasional.

RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali memperluas kontribusi akademiknya di tingkat global.

Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR., menjadi International Guest Lecturer di RheinMain University of Applied Sciences, Wiesbaden, Jerman.

Dilansir dari portal resmi ITB, salah satu materi utama yang mendapat perhatian luas adalah pembahasan lanskap media di Indonesia.

Dalam perkuliahan Program Sarjana International Media Management yang berlangsung selama dua pekan, 15 November–2 Desember 2025, dosen yang akrab disapa Dr. Lala ini memaparkan secara komprehensif ekosistem media Indonesia di hadapan mahasiswa multinasional dari Jerman, Prancis, Maroko, dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Ia menjelaskan bahwa lanskap media Indonesia ditandai oleh keragaman platform, mulai dari media cetak, penyiaran, hingga media digital, dengan dinamika kepemilikan yang kompleks.

Struktur kepemilikan media yang terafiliasi dengan kepentingan politik, ekspansi grup media besar, hingga munculnya media digital yang dibiayai oleh venture capital menjadi bagian penting dari diskusi kelas.

“Mahasiswa sangat tertarik melihat bagaimana produksi, distribusi, dan konsumsi media di Indonesia juga dipengaruhi oleh faktor regulasi, kepemilikan, serta kepentingan ekonomi dan politik,” ungkap Dr. Lala.

Pembahasan tersebut kemudian dikembangkan dalam diskusi komparatif.

Mahasiswa diminta membandingkan struktur industri media Indonesia dengan kondisi di Eropa, Amerika Serikat, serta negara-negara Asia lainnya.

Perbandingan ini menjadi latihan analisis kritis untuk memahami bagaimana sistem politik, regulasi, dan budaya memengaruhi praktik media di masing-masing negara.

Dr. Lala juga mengangkat fenomena berkembangnya media digital di Indonesia, termasuk media berbasis platform dan apa yang disebut sebagai homeless media, yakni media yang tidak terikat pada infrastruktur konvensional namun memiliki pengaruh besar di ruang publik digital.

Diskusi mengenai lanskap media Indonesia ini menjadi pintu masuk untuk memahami tantangan global industri media, seperti konsentrasi kepemilikan, tekanan ekonomi, perubahan perilaku audiens, hingga dampak algoritma digital terhadap kualitas informasi.

Melalui pendekatan interaktif dan berbasis studi kasus, materi tentang media Indonesia tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa internasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai contoh penting dalam kajian media di negara berkembang dengan ekosistem demokrasi yang dinamis.

Kehadiran dosen ITB sebagai pengajar internasional ini sekaligus memperkuat reputasi fakultas ITB di kancah global serta membuka peluang kerja sama akademik lanjutan antara ITB dan RheinMain University, termasuk kolaborasi riset dan pertukaran mahasiswa.

Pengalaman mengajar di Jerman memberikan perspektif baru bagi Dr. Lala mengenai perbedaan budaya akademik.

 Mahasiswa Eropa cenderung menganut low-context communication, yaitu menyampaikan pendapat/kritik dan ketidaksetujuan secara langsung dan eksplisit.

Hal ini berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang lebih terbiasa dengan high-context communication, pesan kerap disampaikan secara implisit dan penuh pertimbangan sosial.

“Mahasiswa di Jerman sangat to the point. Mereka tidak ragu bertanya, mengoreksi, atau meminta kejelasan, termasuk soal metode penilaian sendiri,” katanya.

Selain itu, sistem pembelajaran di RheinMain University sangat menekankan student-centered learning.

Sesi perkuliahan satu arah dibatasi maksimal hanya satu jam, dilanjutkan dengan diskusi, kerja kelompok, serta jeda istirahat singkat (coffee break) untuk menjaga fokus dan efektivitas belajar mahasiswa.

“Mahasiswa di sana sangat menghargai waktu dan keterbukaan. Jika mereka merasa lelah, mereka akan menyampaikannya secara langsung. Namun yang luar biasa adalah antusiasme mereka ketika diberi tantangan,” kata dia. (*)