Bupati Kampar Sebut Tradisi Ayo Onam Jadi Magnet Perantau

Bupati Ahmad Yuzar menegaskan Hari Raya Enam di Bangkinang bukan sekadar tradisi, tetapi momentum besar yang mempertemukan masyarakat, termasuk perantau, sekaligus menjadi agenda wisata daerah.

Bupati Kampar Sebut Tradisi Ayo Onam Jadi Magnet Perantau
Bupati Kampar Ahmad Yuzar saat menyampaikan sambutan dalam acara Festival Lomang Ayo Onam, Jumat (27/3/2026) di Desa Pulau Lawas. (Sumber: Media Center Riau)

RINGKASAN BERITA: 

  • Hari Raya Enam di Bangkinang jadi magnet perantau untuk pulang kampung
  • Tradisi Ayo Onam berakar dari puasa enam hari di bulan Syawal
  • Pemkab Kampar memasukkan Ayo Onam dalam kalender pariwisata daerah.

RIAUCERDAS.COM, KAMPAR - Tradisi Hari Raya Enam atau Ayo Onam di Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum besar yang mampu menarik perantau untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga.

Bupati Kampar Ahmad Yuzar menyebut Hari Raya Enam yang diperingati setiap 8 Syawal memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat, khususnya warga Bangkinang yang merantau ke berbagai daerah.

"Berbicara tentang hari raya onam, atau bahasa kita-nya Ayi Ayo Onam, ingatan kita langsung tertuju kepada Kecamatan Bangkinang lama," ungkapnya saat membuka Festival Lomang Ayo Onam di Desa Pulau Lawas, Jumat (27/3/2026).

Sebab, satu-satunya di Provinsi Riau, yang bupati ketahui daerah yang merayakan hari raya, setelah melaksanakan puasa 6 hari adalah di Kecamatan Bangkinang.

"Dulu, Bangkinang lama terdiri atas Kecamatan Bangkinang tempat kita berada sekarang dan Kecamatan Bangkinang kota," terang dia. 

Bupati juag menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan warisan turun-temurun yang telah dijaga sejak lama oleh masyarakat setempat.

Bahkan, ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan tradisi tersebut karena lahir dan besar di wilayah tersebut.

"Saya kebetulan lahir di kampung ini. Tiga rumah jaraknya dari kantor desa ini," ucapnya mengenang masa kecil.

Menurutnya, tradisi Ayo Onam berakar dari ajaran Islam yang menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: "Barang siapa berpuasa ramadhan, kemudian mengikutkannya enam hari dari bulan Syawal, maka seperti puasa satu tahun".

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Bangkinang memaknai pelaksanaan puasa enam hari tersebut dilakukan secara berurutan di awal Syawal, kemudian dirayakan dalam bentuk Hari Raya Enam.

Didasari oleh hadis nabi ini, oleh orang Bangkinang dimaknai dengan enam hari puasa itu setelah bulan Ramadan secara berturut-turut.

Walaupun dalam hadistnya bisa dua sampai 30 syawal nantinya, tapi untuk lebih menjaga, lebih cepat dilaksanakan, makanya dilaksanakan oleh orang tua-tua kita terdahulunya bahwa puasa Sunnah 6 hari setelah bulan Ramadan itu di awal-awal syawal, kemudian dirayakan.

"Dan saya ketahui juga bahwa Hari Raya Enam ini lebih besar magnetnya untuk mengumpulkan masyarakat di Kecamatan Bangkinang," paparnya.

Lebih lanjut, ia menyebut tradisi ini kini telah berkembang menjadi agenda pariwisata daerah.

Pemerintah Kabupaten Kampar melalui dinas terkait telah memasukkan Ayo Onam dalam kalender wisata untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

"Uniknya tradisi Ayo Onam dan karena ini merupakan wadah tempat mengumpulkan orang dalam jumlah yang banyak, maka Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar yang juga membawahi urusan kebudayaan jeli melihat ini, kemudian menjadikan Ayo Onam masuk kalender pariwisata, sehingga nantinya kebiasaan baik ini lestari untuk generasi penerus kita untuk masa-masa yang akan datang," tutur Bupati.

Selain sebagai tradisi budaya, Ayo Onam juga menjadi sarana mempererat silaturahmi masyarakat.

Banyak warga yang tidak sempat pulang saat Idulfitri justru memilih pulang pada momentum ini. 

"Maka wajarlah pada saat Hari Raya Enam ini masyarakat kecamatan Bangkinang ini berkumpul bersilaturahmi sambil menziarahi makam leluhur mereka dari satu pemakaman umum ke pemakaman umum lainnya, lalu ditutup dengan makan bajambau (makan bersama,red)," pungkasnya. (*)