Teknologi Nuklir BRIN Percepat Pembersihan Limbah Tembaga, Serap Logam Berat Hanya 15 Menit

BRIN melalui Poltek Nuklir mengembangkan karbon aktif berbasis iradiasi gamma yang mampu menyerap logam berat tembaga lebih cepat dan efektif, membuka peluang baru pengolahan limbah industri yang ramah lingkungan.

Teknologi Nuklir BRIN Percepat Pembersihan Limbah Tembaga, Serap Logam Berat Hanya 15 Menit
Ilustrasi instalasi limbah industri. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Teknologi mampu menyerap logam tembaga optimal hanya dalam 15 menit.
  • Kombinasi iradiasi gamma dan bahan ramah lingkungan tingkatkan daya serap karbon aktif.
  • Berpotensi jadi solusi cepat dan efisien untuk pengolahan limbah industri.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Inovasi teknologi nuklir membuka peluang baru dalam pengolahan limbah industri.

Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan metode yang mampu mempercepat penyerapan logam berat tembaga (Cu²⁺) dalam air limbah hanya dalam waktu singkat.

Pengembangan ini dilakukan dengan memodifikasi karbon aktif menggunakan iradiasi gamma serta penambahan bahan ramah lingkungan.

Teknologi tersebut ditujukan untuk menjawab persoalan pencemaran air akibat logam berat yang banyak dihasilkan dari aktivitas industri.

Logam tembaga diketahui bersifat toksik dan sulit terurai secara alami.

Tanpa pengolahan yang tepat, limbah ini berpotensi mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan manusia.

Karena itu, dibutuhkan metode yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman dan berkelanjutan.

Dalam riset tersebut, karbon aktif yang biasa digunakan sebagai penyaring air ditingkatkan kualitasnya melalui proses modifikasi.

Material ini dicampur dengan surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES), yang lebih mudah terurai dan lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia konvensional.

Setelah itu, karbon aktif diproses menggunakan iradiasi gamma untuk memperbaiki struktur permukaannya.

Proses ini terbukti mampu meningkatkan daya serap material terhadap logam berat secara signifikan.

Hasil pengujian menunjukkan peningkatan kinerja yang jelas.

Karbon aktif hasil modifikasi mampu menyerap tembaga lebih cepat dan lebih efektif dibandingkan karbon aktif biasa.

Kondisi optimal dicapai pada waktu kontak 15 menit dengan dosis iradiasi 10 kGy, yang menghasilkan kapasitas adsorpsi lebih tinggi.

Ketua tim riset, Dhita Ariyanti, menyebut inovasi ini sebagai langkah awal menghadirkan solusi praktis dalam pengolahan air limbah industri.

“Kami mengembangkan metode untuk meningkatkan kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat. Hasilnya menunjukkan potensi yang baik untuk diterapkan dalam pengolahan air limbah, terutama karena prosesnya relatif cepat dan efisien. Namun demikian, masih banyak ’Pekerjaan Rumah’ yang harus diselesaikan demi meningkatkan kinerja penyerapan limbah karbon aktif melalui inovasi teknologi radiasi,” ujarnya dikutip dari laman BRIN, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan, penggunaan surfaktan MES menjadi nilai lebih karena dinilai lebih aman bagi lingkungan.

Dari sisi teknis, peran iradiasi gamma menjadi kunci peningkatan performa material.

Dosen Poltek Nuklir lainnya, Deny Swantomo, menjelaskan bahwa teknologi ini mampu mengubah struktur karbon aktif hingga skala mikro.

“Iradiasi gamma memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro, sehingga karbon aktif memiliki lebih banyak ruang dan situs aktif untuk menangkap logam berat. Ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung solusi lingkungan,” kata dia.

Selain meningkatkan efektivitas, metode ini juga dinilai mampu menghemat waktu dalam proses pengolahan air.

Hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri, terutama bagi sektor industri yang membutuhkan efisiensi tinggi.

Meski menunjukkan hasil menjanjikan, penelitian ini masih terus dikembangkan untuk menyempurnakan performa teknologi.

Ke depan, inovasi tersebut diharapkan dapat diterapkan lebih luas, baik dalam pengolahan limbah industri maupun penyediaan air bersih. (*)