Perang Amerika-Israel vs Iran Ancam Pasokan Pupuk dan Bisa Picu Krisis Pangan Global
Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan pupuk nitrogen dunia. Pakar UGM mengingatkan risiko krisis pangan, sekaligus mendorong percepatan penggunaan pupuk organik di Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
- Konflik Timur Tengah berpotensi ganggu pasokan pupuk nitrogen global
- Indonesia didorong beralih ke pupuk organik untuk kurangi ketergantungan impor
- Risiko krisis pupuk bisa berdampak pada musim tanam pertengahan 2026.
RIAUCERDAS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor vital global, termasuk pasokan pupuk.
Serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi mengganggu distribusi pupuk berbasis nitrogen, yang menjadi komponen penting dalam produksi pangan dunia.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Subejo, menilai gangguan pasokan ini dapat memicu risiko serius terhadap ketahanan pangan global, terutama jika konflik berlangsung dalam jangka panjang.
Menurutnya, negara-negara Teluk memiliki peran strategis sebagai produsen pupuk nitrogen.
Ketika jalur distribusi terganggu, negara-negara yang bergantung pada impor bahan baku pupuk akan terdampak langsung.
“Kalau misalnya pupuk organik, kemudian pupuk hayati kan sesungguhnya tidak tergantung impor, tapi kalau pupuk kimia memang sebagian bahannya harus impor,” jelasnya, dikutip dari laman UGM, Selasa (31/3/2026).
Ia menambahkan, Indonesia masih memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan tersebut dengan mengoptimalkan produksi pupuk dalam negeri, terutama pupuk organik yang berasal dari limbah ternak dan bahan alami.
“Jadi di satu sisi, tetap ada risiko kekurangan pupuk, kimia, tapi kita berkesempatan untuk mengganti ke pupuk organik. Kalau hal ini serius antara pemerintah dengan swasta, bersama masyarakat, ini adalah momentum untuk memanfaatkan sumber daya yang kita punya,” terang Subejo.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peralihan ke pupuk organik tidak bisa sepenuhnya menggantikan kebutuhan pupuk kimia.
Jika pasokan pupuk kimia terganggu hingga 50 persen, maka sektor pertanian berpotensi menghadapi tekanan besar.
Subejo juga menyoroti risiko jangka menengah, terutama pada musim tanam berikutnya sekitar Juni hingga Juli 2026.
Gangguan distribusi bahan baku pupuk saat ini bisa berdampak pada ketersediaan stok di periode tersebut.
“Mungkin untuk masa penanaman Juli atau Juni itu yang saya kira yang berisiko,kalau ini misalnya distribusi bahan bakunya tidak lancar,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia mendorong penguatan produksi pupuk organik di tingkat lokal, termasuk melalui kelompok tani dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Penyediaan mesin pengolah pupuk organik dinilai penting untuk mempercepat kemandirian desa dalam memenuhi kebutuhan pertanian.
“Ini diantisipasi mulai sekarang, karena 4 bulan tidak disiapkan dan tiba-tiba bahan bakunya betul-betul tidak bisa masuk, pasti nanti akan beresiko kebutuhan petani, sehingga petani tidak bisa memproduksi berbagai komoditas dengan baik,” tutur Subejo.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia.
Transformasi menuju penggunaan pupuk organik dinilai sebagai langkah strategis untuk menghadapi ketidakpastian global.
“Jika hal tidak disiapkan, nanti ketika misalnya betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps. Tapi kalau strategi tersebut dilakukan, melalui penyuluhan, melalui pengadaan mesin, termasuk mungkin pelatihan, saya kira menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mulai disiapkan,” pungkasnya.
Dengan situasi global yang tidak menentu, para ahli menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi sumber pupuk dan kemandirian produksi dalam negeri. (*)


