Kemenag Libatkan Generasi Muda Arusutamakan Literasi Hilal, Hisab, dan Rukyat di Ruang Digital
Kementerian Agama menggandeng generasi muda melalui Hilal Observation Coaching untuk memperkuat literasi hilal, hisab, dan rukyat. Program ini menegaskan peran strategis anak muda dalam menyebarluaskan pemahaman penentuan awal bulan Hijriah berbasis sains, syariat, dan regulasi.
RINGKASAN BERITA:
-
Kemenag melibatkan generasi muda dalam penguatan literasi hilal, hisab, dan rukyat.
-
Penentuan awal bulan Hijriah didasarkan pada sains, syariat, dan regulasi negara.
-
Peserta didorong memproduksi konten edukatif falak di ruang digital.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng generasi muda untuk mengarusutamakan literasi hilal, hisab, dan rukyat melalui kegiatan Hilal Observation Coaching yang digelar di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Kegiatan ini diikuti 31 peserta secara langsung dan sekitar 2.000 peserta secara virtual dari berbagai daerah di Indonesia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menyebarluaskan pemahaman penentuan awal bulan Hijriah, terutama di ruang digital.
Ia mendorong peserta untuk mengabarkan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat luas agar literasi hilal, hisab, dan rukyat tidak tergerus zaman.
Menurut Abu Rokhmad, penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah tidak hanya menyangkut aspek keagamaan, tetapi juga berkaitan erat dengan sains dan tata kelola negara.
Ia menjelaskan bahwa keputusan pemerintah melalui sidang isbat didasarkan pada tiga landasan utama, yakni sains atau astronomi, syariat Islam, dan regulasi negara.
Ia menambahkan, pemerintah berupaya memfasilitasi umat agar pelaksanaan ibadah yang berdampak pada ruang publik dapat berjalan tertib dan, sejauh mungkin, serentak.
Dalam konteks perbedaan metode penetapan awal bulan, generasi muda diingatkan untuk tidak memprovokasi, melainkan memberikan penjelasan yang edukatif dan mencerahkan.
Abu Rokhmad juga mendorong peserta mengembangkan minat pada astronomi dan ilmu falak secara lebih luas, serta mengaitkannya dengan inovasi dan kreativitas di bidang sains dan teknologi.
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan penguatan dari program serupa yang sebelumnya dikenal dengan nama Catch the Moon.
Tahun ini, kegiatan tersebut diberi nama “Yas’alunaka ‘anil Ahillah” untuk menegaskan dasar Qur’ani pentingnya hilal sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 189.
Arsad menilai minat generasi muda terhadap isu hilal dan ilmu falak masih relatif terbatas, padahal perannya sangat strategis dalam kehidupan beragama, mulai dari penentuan awal puasa, hari raya, waktu salat, hingga fenomena gerhana.
Ia mengingatkan bahwa generasi Z dan milenial saat ini mencakup sekitar 60 persen populasi Indonesia dan akan menjadi penentu arah bangsa pada 2045.
Oleh karena itu, penguatan literasi falak dinilai sebagai investasi jangka panjang agar ilmu tersebut tetap hidup dan berkembang.
Melalui Hilal Observation Coaching, Kemenag berharap peserta tidak hanya memahami konsep dasar hisab dan rukyat, tetapi juga mampu memproduksi konten edukatif di media sosial yang memadukan sains, agama, dan nilai kemanusiaan. (*)