TKA Paket B di Bandung Berjalan Lancar, Tegaskan Akses Pendidikan Inklusif bagi Semua
Peserta dari berbagai PKBM, termasuk ABK, ikuti TKA di SMPN 17 Bandung dengan dukungan fasilitas aksesibel dan pendampingan khusus
RINGKASAN BERITA:
- TKA Paket B di Bandung melibatkan peserta dari berbagai PKBM, termasuk ABK.
- Fasilitas aksesibilitas dan pendampingan menjadi kunci pelaksanaan inklusif.
- TKA berfungsi sebagai pemetaan kompetensi, bukan penentu kelulusan.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menegaskan komitmennya sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Bertempat di SMP Negeri 17 Bandung, pelaksanaan TKA hari pertama bagi peserta didik pendidikan kesetaraan Paket B berlangsung lancar, Senin (6/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan latar belakang beragam, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).
Pelaksanaan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pendidikan yang setara, khususnya bagi warga belajar jalur nonformal.
Sejumlah PKBM seperti PKBM Guna Persada dan PKBM Nura Amalia bergabung dalam pelaksanaan terpusat guna memastikan kesiapan sarana dan prasarana, mulai dari perangkat komputer hingga jaringan internet.
Kepala PKBM Guna Persada, Ali Umar Hamdani, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA kesetaraan umumnya dilakukan di satuan pendidikan yang telah memiliki infrastruktur memadai.
“Persiapan dilakukan mulai dari verifikasi data peserta, pengaturan ruang ujian, hingga penunjukan proktor dan teknisi untuk memastikan pelaksanaan berjalan lancar,” kata dia.
Ia menambahkan, aspek inklusivitas menjadi perhatian utama. Berbagai penyesuaian dilakukan agar peserta berkebutuhan khusus dapat mengikuti asesmen secara optimal.
“Kami menyediakan fasilitas pendukung seperti perangkat dengan aksesibilitas, aplikasi pembantu, serta pendampingan dari pengawas yang telah memahami kebutuhan peserta ABK,” jelasnya.
Salah satu peserta, Heri Gunawan yang merupakan penyandang tunanetra, mengaku merasakan tantangan sekaligus kepuasan setelah mengikuti TKA.
“Rasanya cukup deg-degan, tapi puas juga bisa menyelesaikannya,” ungkapnya.
Dalam persiapan, Heri memanfaatkan berbagai sumber belajar seperti buku braille, audio digital, serta bimbingan dari guru.
Namun, ia mengakui soal berbasis visual masih menjadi tantangan tersendiri.
“Yang paling menantang itu soal yang berkaitan dengan gambar dan istilah matematika yang belum familiar,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan selama ujian, terutama dalam penggunaan perangkat teknologi.
“Kalau tidak ada pendamping, cukup sulit karena soal harus dibacakan terlebih dahulu,” tambahnya.
Peserta lainnya, Stefhanie Yemimma Aurellia, juga merasakan pengalaman serupa.
Ia menyebut TKA sebagai momen yang menegangkan namun memotivasi.
“Saya panik dan deg-degan, tapi sudah berusaha mempersiapkan diri sejak minggu lalu,” tuturnya.
Pelaksanaan TKA di pendidikan kesetaraan dinilai memiliki peran penting dalam memetakan capaian belajar peserta secara nasional.
Hasil TKA tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan sebagai dasar evaluasi kompetensi peserta didik.
Di Kota Bandung sendiri, jumlah PKBM mencapai lebih dari seratus lembaga yang tersebar di berbagai wilayah, dengan peserta tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi juga daerah sekitarnya.
Meski menghadapi tantangan seperti kesiapan infrastruktur dan kebutuhan penyesuaian bagi ABK, dukungan pemerintah melalui pedoman, pelatihan, serta fasilitasi sarana terus diperkuat.
Di akhir kegiatan, Heri berharap pelaksanaan TKA ke depan semakin memperhatikan kebutuhan peserta berkebutuhan khusus.
“Semoga ke depan waktunya bisa lebih panjang, karena kami butuh waktu lebih untuk memahami soal, terutama yang berkaitan dengan angka dan gambar,” tuturnya.
Ia juga mengajak sesama peserta untuk tetap semangat belajar, karena hasil TKA dapat menjadi kontribusi penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di masa mendatang. (*)


