Bahasa Inggris Wajib di SD, Kemendikdasmen Perkuat 90 Ribu Sekolah Lewat Program PKGSD-MBI

Kemendikdasmen memperkuat kesiapan guru SD mengajar Bahasa Inggris melalui program PKGSD-MBI yang menjangkau lebih dari 90 ribu sekolah dengan pendekatan bertahap dan berkelanjutan.

Bahasa Inggris Wajib di SD, Kemendikdasmen Perkuat 90 Ribu Sekolah Lewat Program PKGSD-MBI
Ilustrasi (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Program PKGSD-MBI menargetkan lebih dari 90 ribu sekolah dasar di Indonesia.
  • Guru non-Bahasa Inggris dilatih bertahap agar siap mengajar secara percaya diri.
  • Pembelajaran difokuskan pada praktik sederhana, bukan hafalan semata.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai diperkuat secara nasional.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan puluhan ribu satuan pendidikan melalui program Pengembangan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).

Upaya tersebut disampaikan dalam Webinar Sapa GTK Episode 2 yang digelar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), sebagai ruang berbagi praktik baik sekaligus peningkatan kapasitas guru.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menegaskan kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk membekali siswa sejak dini dengan kemampuan dasar Bahasa Inggris.

“Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib merupakan upaya kita untuk membekali murid dengan kemampuan dasar berbahasa Inggris,"' ujarnya. 

Oleh karena itu, pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan guru agar dapat memberikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan mudah dan menyenangkan. Dalam jangka panjang, guru perlu terus melakukan refleksi agar pembelajaran semakin relevan dengan kebutuhan murid.

Program PKGSD-MBI dirancang menjangkau 90.447 satuan pendidikan secara bertahap.

Pada tahap awal, setiap sekolah diwakili satu guru kelas, terutama dari latar belakang non-Bahasa Inggris dan sekolah yang belum menerapkan mata pelajaran tersebut.

Menurut Nunuk, keberlanjutan menjadi kunci dalam program ini. Guru tidak hanya mendapat pelatihan, tetapi juga pendampingan dan ruang berbagi pengalaman.

“Program PKGSD-MBI dirancang untuk memberikan penguatan kapasitas guru secara bertahap dan berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa guru tidak berjalan sendiri, tetapi didukung melalui pelatihan, pendampingan, dan ruang berbagi praktik baik,” tutur dia.

Guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat menularkan pengetahuan kepada rekan sejawat.

Sementara bagi yang belum, akses pembelajaran tetap tersedia melalui Learning Management System (LMS) dan kanal RGTK di aplikasi Rumah Pendidikan.

Dari sisi metode, Tim Pengembang Program PKGSD-MBI, Herri Mulyono, menekankan pentingnya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar.

“Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar perlu dirancang secara kontekstual dan menyenangkan. Fokusnya bukan pada hafalan semata, tetapi pada bagaimana murid berani menggunakan bahasa dalam situasi sederhana sehari-hari,” ungkap Herri.

Ia menyebut program ini juga berdampak pada perubahan pola pikir guru, dari yang awalnya merasa tidak mampu menjadi lebih percaya diri untuk mulai mengajar dengan pendekatan sederhana.

Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh guru SDN Cinunuk 04 Kabupaten Bandung, Tintin Supriatin.

Ia mengaku program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan mengajar, tetapi juga membangun kepercayaan diri sebagai pendidik.

“Bagi kami, para guru peserta PKGSD-MBI, program ini tidak hanya menambah pengetahuan tentang pengajaran Bahasa Inggris, tetapi juga mengubah cara pandang kami terhadap diri sendiri sebagai pengajar, sehingga membuat kami lebih percaya diri,” ujarnya.

Dalam praktiknya, ia menerapkan metode sederhana seperti mengenalkan kosakata dasar, mengajak siswa bernyanyi lagu berbahasa Inggris, hingga membiasakan sapaan sehari-hari seperti “Good Morning”.

Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap guru sekolah dasar semakin siap menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris yang menarik, relevan, dan sesuai kebutuhan siswa di era global.

Webinar Sapa GTK pun akan terus menjadi wadah kolaboratif untuk memperkuat kompetensi guru di seluruh Indonesia. (*)