UGM Kembangkan Geoportal Kebencanaan Berbasis Data Spasial untuk Tanggap Darurat di Sumatra
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan berbasis data spasial untuk membantu penanganan bencana di Sumatra. Platform ini dirancang agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran melalui peta kebutuhan, area terdampak, dan penilaian kerusakan cepat, sekaligus melibatkan partisipasi langsung masyarakat terdampak.
RINGKASAN BERITA :
-
UGM mengembangkan Geoportal Kebencanaan berbasis data spasial untuk mendukung tanggap darurat bencana di Sumatra.
-
Platform ini memanfaatkan WebGIS partisipatif dan crowdsourcing agar bantuan lebih tepat sasaran dan real time.
-
Hasil pemetaan kebutuhan telah diadopsi BNPB melalui InaRISK dan terbukti efektif pada fase quick response.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Pemanfaatan teknologi data spasial dinilai menjadi kunci penting dalam meningkatkan efektivitas penanganan bencana.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan berbasis peta digital untuk mendukung proses tanggap darurat bencana di wilayah Sumatra.
Geoportal ini dirancang untuk menyediakan data spasial krusial, seperti needs map, peta area terdampak, serta rapid damage assessment map, yang selama ini kerap menjadi kendala dalam distribusi bantuan saat terjadi bencana.
Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menegaskan bahwa inisiatif tersebut lahir dari persoalan klasik dalam manajemen kebencanaan, yakni ketimpangan distribusi bantuan akibat minimnya data spasial yang akurat.
“Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data,” ujar Kamal dilansir dari portal resmi UGM, Sabtu (3/2/2026).
Tim Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan merupakan kolaborasi relawan lintas disiplin, melibatkan Fakultas Geografi UGM, Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, serta Program Studi Sistem Informasi Geografis Sekolah Vokasi.
Dari kerja kolaboratif tersebut, dihasilkan enam jenis peta utama, yakni peta status fasilitas kesehatan dan shelter, peta permukiman terdampak, dan peta kebutuhan (needs map).
Selanjutnya, peta area terdampak banjir, peta perbandingan kondisi sebelum dan sesudah banjir, serta peta aksesibilitas jaringan jalan.
Wakil Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr. Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa Fakultas Geografi berperan sebagai inisiator sekaligus koordinator teknis pengembangan platform WebGIS partisipatif berbasis crowdsourcing.
“Kami mengembangkan WebGIS agar masyarakat terdampak bisa melaporkan secara langsung kebutuhan mereka, lengkap dengan lokasi dan kontak person. Dosen dan mahasiswa di kampus bertindak sebagai ‘dapur data’ untuk memverifikasi laporan tersebut,” jelas Sigit.
Menurutnya, pendekatan pemetaan partisipatif ini bukan hal baru. Model serupa telah diterapkan sejak gempa Bantul 2006, kemudian berlanjut pada penanganan gempa Lombok serta gempa dan tsunami Palu.
Sementara itu, anggota tim peneliti Fakultas Geografi UGM lainnya, Dr. Nur Mohammad Farda, S.Si., M.Cs., mengungkapkan bahwa tim juga memperoleh dukungan citra satelit resolusi tinggi dari Disasters Charter PBB melalui kerja sama dengan BRIN.
Data tersebut digunakan untuk memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase tanggap darurat.
“Kami melakukan interpretasi citra satelit dari portal Disasters Charter untuk mengidentifikasi permukiman terdampak banjir dan memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase emergency,” terang Farda.
Hasil pemetaan kebutuhan yang dihasilkan kemudian diadopsi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Dashboard WebGIS InaRISK.
Needs map pertama dirilis pada 6 Desember 2025 dan dalam waktu 12 jam telah menerima 54 laporan dari lokasi bencana.
“Metode crowdsourcing adalah yang paling efektif pada tahap quick response, karena korban dapat melaporkan langsung apa yang mereka butuhkan dan di mana lokasinya. Dengan begitu, bantuan bisa disalurkan secara tepat sasaran dan dipantau secara spasial serta real time,” jelas Kamal.
Meski demikian, tim peneliti mengakui adanya tantangan teknis, terutama dalam hal validasi data dan pembaruan informasi.
Data yang berasal dari publik dinilai rentan terhadap hoaks dan duplikasi, sehingga seluruh laporan harus melalui proses verifikasi sebelum ditampilkan pada peta utama.
Dalam pengembangannya, Kamal menegaskan bahwa kontribusi dosen dan mahasiswa menjadi elemen penting.
Mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai tim pemetaan sebagai bagian dari penerapan keilmuan di lapangan.
“Mahasiswa tidak hanya belajar SIG, penginderaan jauh, dan kartografi di kelas, tetapi menerapkannya langsung untuk menyelamatkan nyawa. Inilah kontribusi kami sesuai bidang keilmuan dalam membantu penanganan bencana di Sumatra,” pungkasnya. (*)