Penelitian Ungkap Mikroplastik di Tanah Lebih Tinggi dari Laut, Ancam Rantai Pangan Global

Akademisi Universiti Malaya mengungkap kontaminasi mikroplastik di tanah lebih tinggi dibanding laut dan berpotensi masuk ke rantai makanan hingga manusia.

Penelitian Ungkap Mikroplastik di Tanah Lebih Tinggi dari Laut, Ancam Rantai Pangan Global
Associate Prof. Dr. Fauziah dari Universiti Malaya dalam sesi presentasi ilmiah sebagai dosen tamu di di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. (Sumber: uin-suska.ac.id)

RINGKASAN BERITA:

  • Kontaminasi mikroplastik di tanah disebut lebih tinggi dibanding di laut.
  • Mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan hingga manusia.
  • Solusi mencakup bioremediasi, bioplastik, dan kebijakan global yang ketat.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Isu mikroplastik kini tidak lagi terbatas pada lautan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tingkat kontaminasi mikroplastik di tanah justru lebih tinggi dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi sistem pangan global.

Hal tersebut disampaikan Associate Prof. Dr. Fauziah dari Universiti Malaya dalam sesi presentasi ilmiah sebagai dosen tamu di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. 

Ia menjelaskan bahwa fokus riset mikroplastik telah berkembang dari ekosistem laut ke wilayah mangrove, perairan tawar, hingga tanah.

“Plastik ada di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari, namun pengelolaan limbah yang buruk menyebabkan kebocoran ke lingkungan, dari daratan hingga ke laut, sehingga menjadi masalah global yang serius,” kata dia.

Menurutnya, hanya sekitar 9 persen limbah plastik global yang berhasil didaur ulang, dan tidak semuanya kembali ke dalam siklus ekonomi.

Kondisi ini memperparah akumulasi plastik di lingkungan, terutama di daratan.

Ia mengungkapkan bahwa kontaminasi mikroplastik di tanah berasal dari berbagai sektor, di antaranya pertanian, limbah domestik, transportasi, serta konstruksi dan industri.

Aktivitas tersebut menghasilkan partikel plastik yang sulit terurai dan terus terakumulasi.

Lebih lanjut, mikroplastik memiliki sifat persisten yang dapat mengubah struktur tanah, membawa polutan, serta melepaskan zat berbahaya.

Bahkan, partikel ini dapat masuk ke dalam rantai makanan.

“Mikroplastik dapat berpindah dari tanah ke tanaman, kemudian ke hewan, dan akhirnya ke manusia melalui rantai makanan. Ini merupakan risiko kesehatan jangka panjang yang serius,” tambahnya.

Ia juga menyoroti bahwa pola konsumsi masyarakat yang mengutamakan kepraktisan turut mempercepat peningkatan polusi plastik, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Untuk mengatasi persoalan ini, Dr. Fauziah menilai diperlukan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku dan sistem pengelolaan limbah yang lebih baik.

Sejumlah solusi yang ditawarkan antara lain pengembangan bioremediasi berbasis mikroba, penggunaan bioplastik yang mudah terurai, serta penerapan standar dan kebijakan global dalam pengendalian mikroplastik.

“Melindungi pasokan pangan global berarti kita harus mulai dari tanah—menghilangkan kontaminasi plastik dan beralih ke solusi berbasis sains yang berkelanjutan,” kata dia. (*)