Mendiktisaintek Dorong Kampus Nilai Pengelolaan Sampah Berbasis Maggot
Mendiktisaintek Brian Yuliarto mendorong pemanfaatan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik. Kampus akan dilibatkan untuk menilai dan memberi label pengelolaan limbah, dengan residu yang bisa ditekan hingga 3 persen.
RINGKASAN BERITA:
- Teknologi maggot mampu menekan residu sampah organik hingga 3 persen.
- Kampus akan menilai dan memberi label “green” atau “prowaste” pada kawasan yang mengelola sampah mandiri.
- Data survei mahasiswa akan jadi dasar penyusunan masterplan pengelolaan sampah daerah.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemanfaatan teknologi budidaya maggot untuk mengolah sampah organik dinilai dapat menjadi terobosan dalam menekan krisis sampah nasional.
Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, saat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Biokonversi PT Maggot Indonesia Lestari, sebagaimana dikutip dari laman kementerian, Selasa (3/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Brian menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun standar baru tata kelola lingkungan berbasis komunitas.
Kampus didorong berperan aktif meninjau pengelolaan limbah di sektor swasta maupun kawasan permukiman yang telah memiliki fasilitas pemulihan material (material recovery facility/MRF) atau sistem pengolahan mandiri.
“Untuk komplek-komplek yang sudah menghasilkan sistem pengolahan akan diberikan label ‘green’ atau ‘prowaste’ dan kampus yang akan meninjau dan menilai,” ujarnya.
Menurutnya, implementasi biokonversi skala besar menunjukkan capaian signifikan, khususnya di sektor dengan dominasi limbah organik tinggi.
Penggunaan maggot dalam pengolahan sampah dinilai efektif karena mampu menekan sisa residu hingga sekitar 3 persen, terutama di kawasan pariwisata dan perumahan.
Data tersebut turut diperkuat oleh Direktur Utama PT Maggot Indonesia Lestari, Markus Susanto, yang memaparkan keberhasilan pengelolaan sampah di kawasan konservasi dan perhotelan.
Menteri Brian juga menekankan perlunya sinergi antara kampus dan mahasiswa dalam melakukan survei serta pemetaan timbulan sampah secara presisi di berbagai daerah.
Hasil pengumpulan data tersebut akan menjadi dasar penyusunan masterplan pengelolaan sampah berbasis kajian ilmiah di setiap wilayah.
Ia menilai kolaborasi perguruan tinggi dan dunia industri menjadi kunci agar pengelolaan sampah tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga memberi dampak sosial yang positif bagi masyarakat.
Melalui pendekatan berbasis riset dan kemitraan ini, pemerintah berharap pengolahan sampah organik dengan teknologi maggot dapat diperluas sebagai bagian dari solusi berkelanjutan dalam tata kelola lingkungan nasional. (*)