Menag Dorong Ekoteologi di Kampus, Penanaman Pohon di UHN Sugriwa Jadi Aksi Nyata

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya ekoteologi melalui aksi pelestarian lingkungan di kampus. Penanaman pohon di UHN Sugriwa menjadi contoh integrasi sains, agama, dan keberlanjutan.

Menag Dorong Ekoteologi di Kampus, Penanaman Pohon di UHN Sugriwa Jadi Aksi Nyata
Menteri Agama Nasaruddin Umar menanam pohon di Universitas Negeri Hindu I Gusti Bagus Sugriwa, Senin (23/3/2026) di Bali. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA: 

  • Menag dorong ekoteologi sebagai integrasi agama dan pelestarian lingkungan
  • Penanaman pohon di UHN Sugriwa jadi contoh aksi nyata di kampus
  • Program lingkungan kampus mencakup konservasi satwa dan pengolahan sampah.

RIAUCERDAS.COM, BALI - Upaya mengintegrasikan nilai agama dengan kepedulian lingkungan terus didorong pemerintah.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya ekoteologi melalui aksi konkret seperti penanaman pohon di lingkungan kampus.

Hal itu disampaikan saat kegiatan penanaman pohon di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Senin (23/3/2026).

Menurutnya, isu lingkungan tidak bisa hanya diselesaikan dengan pendekatan ilmiah, tetapi juga harus melibatkan nilai spiritual.

“Dalam sejarah peradaban manusia, agama sering dianggap hanya mengurusi wilayah ‘langit’, sementara sains mengurusi ‘bumi’. Namun di UHN Sugriwa, kita ingin membangun jembatan. Spiritualitas Hindu dengan konsep 'Rta' sangat relevan dengan perkembangan bioteknologi, teknologi informasi, maupun ilmu lingkungan,” ujarnya.

Menag menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari ajaran agama yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ajaran agama. Karena itu, gerakan seperti penanaman pohon harus menjadi kesadaran bersama, bukan sekadar kegiatan simbolik,” tutur Menag.

Ia juga mengapresiasi langkah kampus yang telah mengembangkan berbagai program berbasis lingkungan, termasuk pengolahan sampah organik dan pemanfaatan kearifan lokal.

Sementara itu, Rektor UHN Sugriwa I Gusti Ngurah Sudiana menyebut bahwa konsep ekoteologi telah menjadi bagian dari program berkelanjutan kampus.

“Kami secara rutin melakukan penanaman bibit pohon, termasuk pohon matoa dan tanaman yang digunakan sebagai sarana upakara keagamaan. Ini menjadi bagian dari pendidikan nilai sekaligus pelestarian lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, kampus juga aktif dalam konservasi satwa langka seperti rusa, merak, dan jalak Bali melalui kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

“Kegiatan ekologis ini juga kami kaitkan dengan momentum keagamaan, seperti Tumpek Uye, melalui penanaman pohon dan pelepasan burung,” tambahnya.

Dukungan terhadap program keberlanjutan juga datang dari berbagai pihak, termasuk bantuan peralatan pengolahan sampah dan produksi berbasis lingkungan dari mitra perbankan dan perusahaan.

Melalui penguatan ekoteologi ini, pemerintah berharap perguruan tinggi mampu menjadi pusat inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (*)