Konsep Hara Hachi Bu dari Okinawa Dinilai Efektif Cegah Obesitas
Konsep makan 80 persen ala masyarakat Okinawa Jepang dinilai mampu menjaga kesehatan dan mencegah penyakit kronis jika diterapkan dengan benar.
RINGKASAN BERITA:
- Prinsip makan 80% jadi kunci umur panjang warga Okinawa
- Terbukti membantu mencegah obesitas dan penyakit kronis
- Tidak disarankan untuk ibu hamil, anak-anak, dan atlet.
RIAUCERDAS.COM - Pola makan masyarakat Okinawa yang dikenal memiliki angka harapan hidup tinggi kembali menjadi perhatian.
Salah satu kunci utamanya adalah konsep hara hachi bu, yakni kebiasaan berhenti makan sebelum benar-benar kenyang yang dinilai efektif menjaga kesehatan tubuh.
Dosen Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK Universitas Gadjah Mada, Rahadyana Muslichah, menjelaskan bahwa konsep tersebut sejalan dengan prinsip mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh.
Menurutnya, hara hachi bu bukan sekadar metode diet, melainkan telah menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat Okinawa yang berkontribusi pada rendahnya risiko penyakit kronis.
“Hara hachi bu sangat dekat dengan mindful eating. Ketika makan harus bisa fokus dengan makanan, hindari multitasking, menikmati rasa, memahami sinyal dari tubuh. Harapannya agar kita bisa mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi,” ujarnya, Sabtu (13/4/2025) sore.
Ia menjelaskan, secara fisiologis tubuh membutuhkan waktu untuk mengirim sinyal kenyang dari lambung ke otak.
Dengan berhenti makan di sekitar 80 persen kapasitas kenyang, tubuh sebenarnya sudah mendapatkan energi yang cukup tanpa membebani sistem pencernaan.
Kebiasaan makan berlebihan, lanjutnya, dapat meningkatkan tekanan pada saluran pencernaan dan memicu risiko obesitas serta penyakit metabolik.
Sebaliknya, prinsip ini memberi waktu istirahat bagi organ pencernaan.
“Hara hachi bu turut memberikan jeda istirahat bagi pencernaan,” ungkapnya.
Namun demikian, penerapan konsep ini tidak berlaku untuk semua kelompok.
Ia mengingatkan bahwa individu dengan kebutuhan kalori khusus seperti ibu hamil, anak-anak, remaja, dan atlet perlu mempertimbangkan asupan gizi secara lebih spesifik.
Selain itu, penerapan hara hachi bu juga memerlukan proses adaptasi.
Ia menyarankan agar masyarakat mulai mengenali sinyal lapar dan kenyang, menghindari distraksi saat makan, serta menjaga konsistensi dalam menjalankan pola makan tersebut.
“Lambung butuh waktu untuk mengirim sinyal ke otak ketika dia kenyang. Jadi, dengan berhenti di 80 persen sebenarnya kita sudah menerima cukup energi, meski rasanya belum cukup kenyang,” jelasnya.
Dengan pendekatan yang tepat, konsep ini dinilai dapat menjadi salah satu strategi sederhana dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit kronis di tengah pola hidup modern. (*)


