Luka Tak Terlihat Pascabencana Aceh Tengah, Warga Alami Trauma Psikologis

Bencana di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, menyisakan dampak psikologis serius bagi warga. Layanan kesehatan jiwa terpadu pun digelar untuk membantu pemulihan mental masyarakat terdampak.

Luka Tak Terlihat Pascabencana Aceh Tengah, Warga Alami Trauma Psikologis
Relawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberi pendampingan pada anak-anak di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. (Sumber: UMY)

RINGKASAN BERITA:

  • Warga terdampak bencana di Kecamatan Bintang mengalami stres pascatrauma, mulai dari gangguan tidur hingga ketakutan berlebih.
  • Anak-anak turut mengalami trauma setelah sempat terisolasi akibat akses jalan terputus.
  • Tim relawan mengombinasikan pendekatan psikologis dan spiritual dalam layanan kesehatan jiwa.

RIAUCERDAS.COM, ACEH - Bencana yang melanda Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu tekanan psikologis mendalam bagi masyarakat terdampak.

Hingga kini, berbagai keluhan terkait kesehatan mental masih dirasakan warga di Desa Jamur Konyel, Serule, dan Atu Payung.

Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), M. Arif Rizqi, S.Psi., M.Psi., yang terlibat sebagai relawan atas permintaan Kementerian Kesehatan RI, mengungkapkan bahwa banyak warga menunjukkan gejala stres pascabencana.

Keluhan yang paling sering ditemukan pada warga dewasa antara lain rasa takut berlebihan, gangguan tidur, jantung berdebar, hingga keluhan nyeri fisik yang berkaitan dengan kondisi psikologis.

Menurut Arif, kondisi ini diperparah oleh kehilangan tempat tinggal serta keterbatasan akses layanan kesehatan pada masa awal pascabencana.

Dampak psikologis tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak juga menunjukkan tanda-tanda trauma, terutama akibat pengalaman terisolasi ketika akses jalan menuju desa mereka sempat terputus.

“Anak-anak mengaku merasa sangat takut, apalagi ketika mereka sempat terisolasi dan sulit mendapatkan bantuan,” ujar Arif, Jumat (30/1/2026) dilansir dari portal UMY.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, tim relawan melaksanakan layanan kesehatan terpadu di tiga desa terdampak utama, yakni Jamur Konyel, Atu Payung, dan Serule.

Penetapan lokasi ini didasarkan pada tingkat kebutuhan layanan kesehatan serta kondisi akses wilayah.

Arif menjelaskan bahwa akses menuju Desa Jamur Konyel baru terbuka sekitar dua minggu terakhir dari Puskesmas Bintang.

Sementara Desa Atu Payung dan Serule baru dapat dijangkau sekitar satu minggu terakhir.

Kegiatan layanan kesehatan yang melibatkan Kemenkes RI dan relawan UMY ini berlangsung selama 18–31 Januari 2026.

Pelayanan dipusatkan di Puskesmas Pembantu Jamur Konyel, Balai Desa Atu Payung, serta Kantor Desa Serule.

Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan medis oleh dokter dan perawat, pelayanan gizi, kesehatan lingkungan, perbaikan alat kesehatan, hingga layanan kesehatan jiwa.

Untuk intervensi psikologis, tim menggunakan pendekatan pelepasan stres yang dipadukan dengan pendekatan spiritual.

“Pendekatan seperti zikir dan doa kami kombinasikan dengan teknik pelepasan stres, karena lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat,” pungkas Arif.

Pemulihan psikologis warga pascabencana ini diharapkan dapat berjalan seiring dengan pemulihan fisik, sehingga masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas secara normal dan berkelanjutan. (*)