Prof Annisa Mardatillah Resmi Jadi Guru Besar ke-26 UIR

UIR kembali menambah guru besar. Prof Annisa Mardatillah menekankan integrasi teknologi digital dan kearifan lokal dalam strategi pemasaran sebagai keunggulan bisnis masa kini.

Prof Annisa Mardatillah Resmi Jadi Guru Besar ke-26 UIR
Prof. Dr. Annisa Mardatillah,S.Sos, M.Si. (Sumber: UIR)

RINGKASAN BERITA:

  • Guru Besar UIR menekankan integrasi teknologi digital dengan kearifan lokal sebagai strategi pemasaran masa depan.
  • Risetnya mengangkat inovasi augmented reality dan gamifikasi untuk meningkatkan daya saing Batik Melayu Riau.
  • Fokus kontribusi diarahkan pada penguatan UMKM agar mampu go digital tanpa kehilangan identitas budaya.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Transformasi strategi pemasaran berbasis teknologi yang tetap berakar pada kearifan lokal menjadi fokus utama Guru Besar baru Universitas Islam Riau (UIR), Prof. Dr. Annisa Mardatillah, S.Sos., M.Si.

Perspektif ini mengemuka seiring pengangkatannya sebagai Guru Besar ke-26 di lingkungan UIR melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 2041/M/KPT.KP/2026.

Dosen Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) tersebut dikukuhkan dalam bidang Strategi dan Kebijakan Pemasaran Bisnis.

Penetapan ini sekaligus menambah daftar Guru Besar di UIR.

Perjalanan akademiknya ditempuh melalui pendidikan sarjana dan magister di Universitas Riau, kemudian meraih gelar doktor pada Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung.

Proses menuju jabatan akademik tertinggi ini dilalui melalui berbagai tantangan, dengan menekankan konsistensi, dedikasi, serta komitmen dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Ketertarikan awalnya pada dinamika perilaku pasar berkembang menjadi kajian yang lebih spesifik, terutama pada integrasi strategi pemasaran dengan kebijakan bisnis, kearifan lokal, serta transformasi digital.

“Seiring waktu, fokus tersebut berkembang menjadi kajian yang lebih spesifik, terutama pada integrasi antara strategi pemasaran, kebijakan bisnis, kearifan lokal atau indigenous product creativity dan transformasi digital. Dalam perjalanan tersebut, saya berusaha konsisten melakukan penelitian, publikasi ilmiah, serta terlibat dalam berbagai forum akademik baik nasional maupun internasional”, cerita Prof Annisa dikutip dari laman UIR, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, perkembangan era digital telah mengubah pendekatan pemasaran dari pola konvensional menjadi berbasis teknologi, sekaligus menuntut penguatan nilai-nilai lokal sebagai pembeda di tengah persaingan.

Kearifan lokal dinilai mampu menghadirkan identitas dan kedekatan emosional dengan konsumen, terutama pada pasar domestik maupun sektor wisata berbasis budaya.

Pemanfaatan teknologi seperti media sosial dan platform e-commerce turut membuka peluang memperluas jangkauan produk lokal hingga ke pasar global. Pendekatan ini dinilai relevan untuk memperkuat posisi produk berbasis budaya.

Kontribusi riset yang dilakukannya juga berfokus pada penguatan pelaku usaha, khususnya di Riau.

Sejumlah penelitian yang didanai Kemendiktisaintek mencakup pengembangan strategi bersaing industri kecil menengah kerajinan anyaman limbah lidi kelapa sawit di Rokan Hilir (2022-2023), hingga peningkatan kinerja pemasaran Batik Melayu Riau melalui teknologi augmented reality berbasis Unity 3D pada 2024.

“Inovasi tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk Penerapan Smart Batik Quest Gamifikasi Puzzle Bilingual Interaktif Berbasis Indigenous Product Creativity sebagai keunggulan kompetitif Batik Melayu Riau pada 2025,” jelasnya.

Hasil riset menunjukkan bahwa integrasi teknologi seperti augmented reality dan gamifikasi mampu meningkatkan daya tarik produk, memperkuat interaksi konsumen, serta memperdalam pemahaman terhadap nilai budaya.

Pendekatan ini dinilai memberikan keunggulan kompetitif karena menghadirkan pengalaman yang tidak hanya bersifat transaksional, tetapi juga edukatif dan emosional.

Ke depan, Prof Annisa menargetkan pengembangan ilmu pemasaran yang adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan dengan menggabungkan teknologi digital, perilaku konsumen, serta kearifan lokal.

Ia juga mendorong lahirnya pendekatan pemasaran berbasis data dan teknologi seperti artificial intelligence (AI) tanpa meninggalkan nilai budaya.

Komitmen tersebut diarahkan untuk memperkuat riset aplikatif bagi UMKM dan industri lokal agar mampu bertransformasi secara digital sekaligus mempertahankan identitas daerah dalam persaingan global. (*)