BRIN Uji Teknologi Jaring Benih untuk Atasi Erosi Tebing Jalan dan Risiko Longsor
BRIN menguji teknologi Jaring Berbenih (Seed Net) sebagai solusi konservasi tanah di tebing curam bekas pembangunan jalan. Inovasi ini dirancang untuk menekan erosi sekaligus meningkatkan keberhasilan revegetasi di area dengan kondisi lingkungan ekstrem.
RINGKASAN BERITA:
- Seed Net diuji langsung pada tebing terjal bekas pembukaan jalan di Jombang
- Teknologi berfungsi ganda: menahan tanah sekaligus media tumbuh tanaman
- Berpotensi diterapkan pada proyek jalan, tambang, dan lahan terbuka lainnya
RIAUCERDAS.COM, JOMBANG - Upaya menghadirkan solusi konkret atas persoalan degradasi lingkungan terus diperkuat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Melalui Pusat Riset Ekologi (PRE), BRIN mengembangkan dan menguji Teknologi Jaring Berbenih atau Seed Net sebagai metode baru untuk mengendalikan erosi sekaligus mempercepat pertumbuhan vegetasi pada tebing terjal.
Teknologi ini diuji langsung di lapangan melalui kolaborasi BRIN dengan PT Marga Harjasa Infrastructure (MHI) Jawa Timur serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang.
Riset tersebut didukung pendanaan program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Batch Enam dan kini telah memasuki tahap pengujian efektivitas.
Tebing curam bekas pembukaan jalan selama ini menjadi titik rawan kerusakan lingkungan.
Minimnya media tumbuh, tingginya aliran air permukaan, serta intensitas hujan sering menyebabkan benih gagal tumbuh dan tanah mudah tergerus, bahkan memicu longsor.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti BRIN melakukan uji lapangan selama satu pekan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Lokasi ini dipilih karena memiliki karakteristik lahan yang dinilai mewakili kondisi konservasi tanah di berbagai wilayah Indonesia.
Peneliti Ahli Utama PRE BRIN, Enny Widyati, menjelaskan bahwa Seed Net dirancang sebagai solusi dua fungsi.
Selain berperan menahan permukaan tanah dari erosi, jaring ini juga menjadi wadah bagi benih tanaman agar dapat tumbuh lebih stabil.
“Seed Net memungkinkan proses konservasi tanah dan revegetasi berjalan bersamaan. Benih tidak lagi mudah hanyut, dan permukaan tanah terlindungi dari dampak langsung air hujan,” ujar Enny dilansir dari portal BRIN, Kamis (5/2/2026).
Selama uji coba, tim peneliti melakukan pengukuran menyeluruh, mulai dari tingkat erosi awal, pertumbuhan dan persentase hidup tanaman, hingga analisis sampel tanah dan air.
Data tersebut digunakan untuk menilai sejauh mana penerapan Seed Net mampu memperbaiki kondisi lingkungan.
Enny menambahkan, salah satu kendala utama pada tebing curam adalah ketidakstabilan posisi benih akibat aliran air.
Dengan Seed Net, benih ditempatkan pada posisi yang lebih aman dan kelembaban mikro di sekitar tanah dapat terjaga.
“Jika hasil pengujian menunjukkan konsistensi yang baik, teknologi ini sangat memungkinkan diterapkan secara luas, baik pada proyek infrastruktur jalan, area pertambangan, maupun lahan terbuka lainnya,” jelasnya.
Dari sisi akademik, dosen FMIPA Universitas Negeri Malang, Fatchur Rohman, menekankan bahwa keberhasilan revegetasi juga ditentukan oleh pemilihan jenis tanaman.
Menurutnya, pendekatan ekologi menjadi kunci agar vegetasi mampu beradaptasi dan memperkuat struktur tanah.
“Tanaman yang dipilih harus sesuai dengan kondisi setempat, memiliki pertumbuhan cepat, dan sistem perakaran yang kuat untuk membantu menahan tanah,” ujarnya.
Melalui inovasi Jaring Berbenih ini, BRIN menegaskan arah riset terapan yang langsung menjawab kebutuhan lapangan.
Teknologi tersebut diharapkan menjadi bagian dari praktik pembangunan berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap risiko perubahan iklim di Indonesia.(*)